Monday, 20 February 2012

Situs Karsyan Goa Pasir

Situs Karsyan Goa Pasir

Bagi warga Masyarakat Tulungagung siapa yang belum mengenal Goa Pasir, Goa yang terletak di Dukuh Pasir Desa Junjung Kecamatan Sumbergempol atau tepatnya di sisi utara pegunungan kapur selatan (Gunung Podo) ini ternyata banyak menyimpan berbagai benda purbakala (Patung, berbagai pahatan/relief yang ada di antara bebatuan, makam kuno dan goa) yang dapat dijadikan obyek wisata sejarah maupun cagar budaya.
Dari Buku yang berjudul TABUTA (Tapak Budaya Tulungagung) karangan Drs. M Dwi Cahyono, M.Hum dijelaskan bahwa Goa Pasir atau yang dinamakan Situs Karsyan Goa Pasir yang terletak di Desa Junjung Kecamatan Sumbergempol berbentuk bangun landam kuda serta tinggalan arkeologi yang berupa goa pertapaan yang berisi banyak relief (goa I) dengan ukuran goa 260 x 175 cm dan kedalaman 218 cm dengan ketinggian 200M di atas permukaan tanah tanpa disertai dengan tangga batu. Dan goa II yang tidak ber-relief dengan posisi tebing bawah dengan keadaan mulut lebih besar dari goa I berukuran 305 x 255 x 190 cm dan kedalaman 255 cm posisi goa menghadap ke barat.

Dalam buku TABUTA juga dijelaskan bahwa sesuai dengan sebutannya yaitu “Situs Goa Pasir“ dan fungsinya sebagai karsyan maka kedua Goa tersebut waktu itu difungsikan sebagai pertapaan. Hal tersebut didukung dengan banyaknya temuan lain yang tersebar di area goa serta sebagian yang tertimbun tanah, hal ini selaras dengan esoteris dari Hindu sekte Siwa Shidanta yang lazim di jalankan di lingkungan karsyan yang sifatnya tertutup.

Temuan lain di situs Goa Pasir berupa sisa struktur bangunan, berbangun bujur sangkar dengan ukuran sisi 700 cm berupa tatanan batu bata yang semula diperkirakan sebagai pondasi suatu asrama (rumah tinggal semi permanen bagi para Resi) dan hingga kini yang tersisa dari bangunan ini adalah bagian bangunan yang tampak di permukaan tanah yang berada di sisi selatan dan barat.
Selain itu di area situs juga terdapat arca-arca lepas batu adesit, sedangkan arca yang tersisa berupa dua buah arca penjaga pintu (dwara pala) berbeda ukuran dan detail bentuknya, fragmen arca Ganesha (Putra kedua dari Dewa siwa dan parwati/uma) peninggalan kerajaan Majapahit dan ini di indikatori berupa pahatan teratai yang tumbuh dari vas bunga yang dipahat pada sandaran kanan kiri kaki arca.
Berdasarkan catatan penelitian N.J. Krom dan Verbeek di situs Goa pasir pernah ditemukan arca batu yang sandarannya dipahatkan konogram saka 1325 (1403 M) dan 1224 S (1302 M) tahun 1302-1403 M yang berarti dari masa Majapahit, juga pernah ditemukan kronogram yang bertarikh Saka 1228 (1306 M), menunjuk pada zaman Majapahit oleh karena itu situs Karsyan Goa pasir diperkirakan sebuah peninggalan zaman Majapahit.

Mie Gadung Tulungagung, Perlu Dicoba

Inilah contoh mie Gadung
Inilah contoh mie Gadung
Desa Pelem Kecamatan Campurdarat yang mempunyai latar belakang sebagai sentra industri kuliner opak gadung serta mengurangi pengganguran didaerah setempat maka, mendorong Pengurus Kelompok Tani Bina Tani Desa Pelem Kecamatan Campur darat menciptakan makanan kuliner yang berbahan dasar gadung yang tidak terpakai dalam pembuatan Krupuk sebagai bahan dasar Mie. Diawali tahun 2009 silam kelompok binaan dari Kantor Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Tulungagung ini dengan dipimpin Moch Sidiq hingga saat ini dalam satu bulan minimal bisa membuat Mie dari bahan dasar gadung sekitar 1 kwintal hingga 2Kwintal, “ dari 8 orang yang aktif membuat mi ini, dalam satu bulan kelompok kami bisa menghasilkan sekitar 1 kwintal hingga 2 kwintal dengan rincian 1 orang bisa membuat maximal 5 kg dalam seharinya, “ ujar Ketua yang memimpin 20 orang sebagai anggota tersebut pada reporter news room.
Masalah kwalitas produksi mie bikinan kelompok ini bagus dan dijamin tanpa bahan pengawet sebab mie bikinan kelompok tani tersebut dalam membuatnya tidak menggunakan bahan pengawet sama sekali bahkan dalam membuat warna mie, mereka menggunakan bahan sayur mayur sebagai bahan dasarnya, “ untuk bahan dasar dari mie yang kami buat ini selain Gadung juga memanfaatkan tepung kasava umbi singkong, sementara pewarnanya kelompok kami hanya menggunakan sayur mayur, sedangkan pengawetnya kami memanfaatkan air dari jerami , dan yang perlu diingat mei bikinan kami ini bisa tahan hingga 4 bulan lamanya, “ imbuh memproduksi mie dengan lebel Mie Kasava Special ini pada reporter.
Bagi anda yang datang ke kota marmer serta menginginkan mencicipi jajanan kuliner khas Tulungagung terutama mie bikinan kelompok tani ini anda cukup mengeluarkan uang Rp 5.000,- hingga Rp. 10.000,- per kemasan atau Rp. 50.000,- per Kg-nya

source : tulungagung.go.id
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...